Pelaku Usaha UMKM Tah Melulu Butuh Kredit

Tuesday, 23-12-2014 12:00 am #berita #berita-terkini #berita-terbaru

Pengusaha-pengusaha kecil dan sederhana itu mungkin tidak pernah mengerti bagaimana menyusun  neraca 10 lajur atau istilah-istilah keuangan yang rumit. Tetapi kebutuhan mereka tidak jauh berbeda dengan pengusaha besar. Mereka juga memerlukan sokongan dana, akses ke pasar, pengetahuan untuk mengelola keuangan bisnisnya.

Bank BTPN yang menangkap kebutuhan ini. Nasabah bank itu memang bukan korporasi besar yang sudah lihai berbisnis. Nasabah BTPN adalah masyarakat berpenghasilan rendah serta pelaku usaha kecil dan menengah, termasuk masyarakat pra-sejahtera produktif yang sering disebut mass market.

BTPN dengan teratur memberikan pelatihan dengan berbagai modul untuk nasabahnya. BTPN memiliki 127 orang pelatih  yang bertugas di seluruh Indonesia. BTPN juga membuka kesempatan kepada para nasabah penabungnya untuk berbagi pengalaman kepada nasabah mass market yang menerima kredit dari BTPN.

"Saya membuat merek ini setelah diundang pelatihan ke Jakarta," kata Maimuna Nikolaas (65)  sambil menunjuk label merek "Maymuuna" berwarna kuning pada toples berisi kue kering buatannya yang ikut dipamerkan pada Festival UMKM BTPN di Manado pekan lalu.

Maimuna menggeluti bisnis kue kering setelah suaminya meninggal dunia beberapa tahun lalu. Dari hanya mengandalkan uang pensiunan suaminya, dia memutar otak untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bermodal Rp 300.000 untuk membuat kue kering pada 2006, dia mulai membuat dan memasarkan kue keringnya.

"Pada awalnya saya mendapatkan kredit modal sebesar Rp 3 juta. Selain kredit, saya juga mendapatkan pelatihan soal pengelolaan usaha, keuangan, termasuk membuat label untuk kue buatan saya," ujarnya.

Saat ini, omsetnya per bulan mencapai Rp 12 juta. Harga kue kering per toples besar berkisar antara Rp 80.000 hingga Rp 180.000. Omset ini bertambah menjelang hari raya seperti Natal ini. Seiring dengan perkembangan bisnisnya, kredit yang diterimanya juga sudah bertambah menjadi Rp 52 juta. "Saya sudah menolak pesanan sejak minggu lalu," katanya. 

Manfaat pelatihan mengenai bisnis juga dirasakan oleh  Arfa Hamid, mantan Kepala Bidang Industri Kabupaten Gorontalo. Enam bulan menjelang pensiun pada 2011 dia mendapatkan pelatihan pra pensiun dari BTPN.

Ketika itu, dia berfikir hendak menambah penghasilan setelah pensiun. Arfa pun memilih menjual jilbab yang dibuatnya sendiri."Modal pertama dari kantong sendiri sebesar Rp 3,5 juta. Saya menawarkan jilbab di arisan dan ternyata laku. Pada tahun 2011 saya mendapatkan pelatihan dan kredit modal sebesar Rp 60 juta," kata Arfa.

Dia melihat peluang ada instruksi di Pemkab Gorontalo agar para PNS mengenakan jilbab. Usahanya pun kian berkembang. Berbagai pelatihan diikutinya. Saat ini, omsetnya sudah berkembang menjadi Rp 600 juta per tahun. Produknya pun bertambah tidak hanya jilbab saja tetapi juga kemeja dan baju. Pendapatan di usia pensiunnya jauh lebih banyak dari pendapatannya ketika masih aktif bekerja.

"Sekarang selain kamar dan ruang tamu, garasi saya juga penuh pakaian. Saya menaruh produk di bandara Sam Ratulangi, galeri Dekranasda Gorontalo juga di gedung Smeso Jakarta," katanya. Dia memiliki 73 orang ibu yang membantunya mengerjakan jilbab dan baju.

Direktur Usaha Menengah dan Kecil BTPN, Mulia Sallim mengatakan tetap yakin sektor usaha mikro, kecil dan menengah akan berperan penting dalam perekonomian Indonesia. Dia menolak mengungkapkan berapa dana yang dikucurkan untuk melakukan pelatihan-pelatihan tersebut. "Di BTPN, pemberian pelatihan termasuk bisnis kami," ujarnya.

Dia mengatakan, dengan pelatihan-pelatihan tersebut, ikatan antara nasabah dengan bank semakin erat. Nasabah menjadi lebih loyal karena tidak sekadar diberikan kredit tetapi juga pelatihan yang memberdayakan.



#TIPS SEPUTAR UMKM

#CNPLUS GROUP

copyrights © 2014 Peduli Mikro
Ketentuan Privasi . Syarat dan Ketentuan
Powered by CnPluS